Minggu, 20 Mei 2012

~My Mother is The Best~

  Terpaan angin yang menghembuskan rambut panjangku. Berusaha untuk merapikan tataan rambut yang tak menentu diterpa angin sore. Melihat matahari tenggelam dijendela. Aku ingin seperti matahari. Bergumam-gumam tak jelas walau itupun akan menjadi harapan yang sia-sia. 

  Panggilan ibuku dari dapur sudah terdengar meninggi atau bahkan melengking. Akhirnya,aku berhenti memandangi matahari tenggelam. Berjalan menggunakan tongkat pembantu. Sebenarnya,bisa saja aku menggunakan kursi roda. Akan tetapi,aku tidak mau merepotkan orangtuaku. Kalau bisa memakai tongakat,kenapa memakai kursi roda?

  Sampailah aku di ruang makan sederhana. Lauk pauk,nasi,serta air putih yang mengisi perut kami. Adapun lilin yang menerangi kami disaat makan menjelang. Ibu sudah mengambilkan aku nasi dan lauknya. Sehingga aku bisa langsung makan tanpa mengambil makanan dahulu.

  Selesai makan,ibu membereskan perabotan yang sudah kami pakai. Tak peduli begitu,aku langsung memasuki kamar untuk menutup jendela yang tadi lupa kututup. Tirai coklat bercorak polkadot menjadi tirai pelengkap jendela yang sudah lumayan reyot dimakan umur. Walaupun sekarang umurku masih 10 tahun,jendela ini lebih tua dari yang kubayangkan.

  Suara ombak menghantam karang. Mengulung-gulung bagaikan kain peri yang melambai-lambai. Bulan purnama yang mengantikan matahari tenggelam. Sinar rembulan,mengharapkanku untuk berkhayal setinggi mungkin walau nanti akan jatuh juga. Tak perduli aku jatuh berapa kali,aku berusaha untuk bangkit karena itulah yang menjadi semangat hidup. Tak perduli juga bagaimana situasi atau keadaanya,aku pasti akan tetap berkhayal,berkhayal akan keadaanku yang terus berjalan terpincang-pincang,terseok-seok. Tetapi,aku masih bersyukur kepada Tuhan karena,Dia tidak memberikan penyakit yang lebih parah dari itu.

  Pagi menyinari hidupku. Dengan semangat,aku melakukan rutinitas sehari-hariku walaupun jauh berbeda dari seperti 'biasanya'.     

1 komentar: